Kasus Audrey, Tamparan Bagi Pendidikan Nasional

Tanpa disadari setelah membaca kasus terkait  #JusticeForAudrey ternyata menggelitik juga sampai ke ubun-ubun. Agak “emosi” maksudnya. Pantas saja komentar para natizen di media sosial sampai ada yang menghujat pelaku-pelaku itu dengan kata-kata yang cukup kasar. Kata-kata yang harusnya tertulis dalam daftar kebun binatang pun tertulis oleh mereka di komentarnya.

Lantas si Abang mencoba membaca-baca lagi laporan terkait kasus ini. Ternyata memang benar ada kasus penganiayaan terhadap pelajar oleh pelajar. Namun yang menjadi menjengkelkan bagi Abang, fakta yang sebenarnya tidak sesuai dengan pemberitaan yang ada di media sosial.

Tagar #JusticeForAudrey yang menjadi trending tipok di beberapa media sosial adalah bentuk dukungan terhadap Audry siswi SMP di Pontianak, korban penganiayaan oleh siswi-siswi SMA. Yang hingga kini, kepolisian setempat sudah menetapkan tiga siswi tersangka kasus tersebut.

Bentuk dukungan ini, tentu saja bukan berdasarkan fakta yang ada, namun akibat hiperbolik dari pemberitaan

Dukungan terhadap Audrey pun  tidak lagi hanya dari masyarakat (natizen).  Namun jugadari beberapa publik figur seperti para artis, cawapres 02 Sandiaga Uno hingga presiden Jokowi.

Dan yang tidak kalah menarik respon dari pengacara kondang tulang(paman “jauh”) si Abang, Hotman Paris Hutapea.  Tidak tanggung-tanggung, pengacara yang dijuluki “Pengacara 30 Miliar”  ini, dikabarkan selain mengawal penegakan hukum terhadap para pelaku, juga akan menyumbangkan sebagian honornya kepada pihak keluarga Audrey sebagai bentuk dukungannya.

Tapi si Abang juga tidak mau kalah dong dengan respon beliau-beliau itu. Menurut Abang, kasus Audrey ini juga menampar pendidikan nasional kita.

Terlepas dari hiperbolik pemberitaan kasus ini, faktanya tetap saja tentang penganiayaan oleh pelajar. Dan perbuatan ini sudah di luar dari tingkat keberanian remaja pada umumnya. Artinya, ada indikasi masalah karakter pada siswi-siswi yang masih di bawah umur.

Mau tidak mau, kasus ini adalah salah satu bentuk kegagalan sektor pendidikan dalam membentuk manusia indonesia yang cerdas dan bermoral .

Tentang perkelahian antar pelajar. Dari sisi perempuan. Kalau di kampung Abang dulu di Samosir, juga ada beberapa yang terjadi. Tetapi hanya sebatas tarik-tarikan rambut, lalu kemudian akan muncul teriakan melengking dari salah satu atau keduanya. Orang-orang sekitar pun pasti langsung ramai, dan melerainya. Mau masalah apapun itu. Paling begitu saja, ujungnya. Berdamai dan saling memaafkan.

Tak pernah ada, lebih dari itu. Seperti halnya yang dilakukan oleh remaja yang menganiaya Audrey ini.

Kemudian jika ada seorang anak, baik perempuan maupun laki-laki yang terkenal misalnya lumayan “nakal” di suatu tempat. Siapa orangtuanya, sudah pasti bahan pertanyaan.

Lalu kemudian yang ditanyakan oleh penduduk setempat adalah sekolah dimana si anak tersebut. Entahlah bagaimana, mengapa sekolah menjadi pokok kedua yang biasa ditanyakan penduduk itu.

Jika ditelusuri lebih lanjut. Orang kampung Abang itu, sangat percaya dengan sekolah sebagai salah satu pihak yang terutama bisa membantu orangtua dalam membentuk karakter anak.

Oleh karenanya, kita dulu, kalaulah misalnya mengadu kepada orangtua ketika dimarahi oleh guru di sekolah. Yang muncul adalah marah yang lebih “parah” lagi dari orangtua. Orangtua kita  pasti akan bilang begini ” guru memarahi kamu karena kamu salah, dan karena guru itu sayang kepada kamu, biar kamu suskes nantinya”. Begitu.

Terkait kasus yang menimpa Audry ini. Adakah masyarakat yang berada di lingkungan sekitar kira-kira yang bertanya, “sekolah dimana anak-anak yang melakukan penganiayaan itu?”. Belum tahu pasti. Tetapi kemungkinan besarnya, banyak orang sekitar yang akan menanyakan itu.

Kemudian, mereka akan berpikir tentang peran sekolah dalam pembentukan karakter siswa. Dan berujung pada justifikasi kepada sekolah dan ataupun guru terkait moral siswi-siswi tersebut.

Anggapan demikian, sepatutnya tidak salah. Bahwa betul watak ataupun karakter setiap warga negara adalah tanggungjawab pendidikan nasional. Dimana si anak bersekolah menjadi pertanyaan yang tidak bisa elakan. Dan ini  tentu saja,  sekali lagi, menampar pendidikan nasional seutuhnya, dari sisi kualitas.

Harapan si Abang, kasus ini menjadi bahan pertimbangan bagi Kemendikbud dalam pengimplementasian penguatan pendidikan karakter (PPK) yang tertuang dalam permendikbud nomor 4 tahun 2018.

Penerapan pendidikan karakter harus menjadi bagian pokok yang ditekankan dalam setiap proses pendidikan. Seperti halnya mengintegrasikan pendidikan karakter dalam setiap satuan mata pelajaran. Sehingga kecerdasan dan moral menjadi bagian yang seimbang dalam hasil pendidikan anak.

Bahan Introspeksi

Mau menyalahkan siapa pun. Kini tak ada lagi gunanya. Peristiwanya sudah terjadi. Viral di media dan media sosial. Seluruh nusantara kini tahu tentang kasus ini.

Rasa empati pun tak hanya lagi kepada korban, Audrey. Pun kepada pelaku yang ternyata adalah anak dibawah umur. Yang masih belajar tentang kedewasaan dalam hidup. Namun kini, begitu banyak dari kita yang sudah mencemooh bahkan mengutuk keras. Kita memang tidak bersalah. Tetapi mereka ternyata bukan orang dewasa.

Kita tidak tahu kedepannya. Yang sekarang menghujat pelaku. Bisa saja karena keluarga, kita jadi terlibat dengan kasus seperti ini di kemudian hari.

Kasus seperti ini kejadiannya biasanya terjadi di daerah yang berbeda, dan tentu saja pihak-pihak yang berbeda juga yang terlibat. Jika menengok kebelakang kasus-kasus terkait pelajar sebelumnya.

Seperti kasus pemukulan guru oleh siswa, siswa mengajak guru berantam di kelas dan sebagainya. Yang sebelumnya juga mencemaskan dunia pendidikan kita. Kasus-kasus tersebut dari berbagai daerah.

Jadi tidak tertutup kemungkinan di kemudian hari, jika kita-kita yang sekarang yang tidak terlibat, bisa saja menjadi korban atau pelaku dalam kasus seperti ini. Bersama mewaspadai dan berhati-hatilah terutama dalam mendidik anak.

Untuk itu, tidak perlu lagi saling menyalahkan. Tak perlu lagi mengutuk pelaku. Tak perlu lagi lebih memviralkan. Kasus ini sudah ditangani oleh yang berwajib. Biarkanlah hukum bertindak.

Bersama memberi solusi kedepanya. Bersama lebih peduli dengan keadaan lingkungan anak di sekitar kita. Dan bersama memberi contoh kepada mereka yang masih belajar.

Dengan begitu, menurut Abang, terciptanya cita-cita pendidikan nasional untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya  yang cerdas dan juga berkarakter akan terbantu perwujudannya.

 

Penulis : Wiro Naibaho
Tanggal Publish : 12 April 2019
Sumber : Kompasiana

 

More info :
IG : amazonehmapnup
Line : @bus2778d
Website : www.hmapnup.org
Youtube : HMA-PNUP

Terlahir Untuk Satu

Hits: 133

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *