Virus Yang Memanusiakan

Sudah dua pekan berlalu kita ditinggalkan oleh bulan Ramadhan, bulan dimana manusia mencapai fitrah yang akan digunakan sebagai tameng pengawalan. Bulan Ramadhan menjadi bulan training keimanan yang kualitasnya akan diukur pada bulan-bulan selanjutnya. Dan tentu saja saat ini kita semua sedang berada pada fase implementasi kualitas keimanan setelah ditraining sebulan penuh.

Banyak orang baranggapan bahwa Ramadhan tahun ini tarasa berbeda, padahal kita masih diwajibkan berpuasa, disunnahkan sholat tarwih, perbanyak sedekah dan tadarrus Al-Qur’an serta kebiasaan-kebiasaan Ramadhan lainnya. Tetapi tentu saja bukan hal itu yang mereka maksud, bulan Ramadhan yang terasa berbeda adalah suasana berpuasa yang harus dijalani dengan kondisi pandemik Covid-19. Hampir seluruh bidang dan sektor kehidupan terdampak akibat pandemik ini. Musibah yang menimpa seluruh dunia ini sontak membuat aktifitas manusia harus direstrukturisasi demi keberlangsungan hidup peradaban.

Restrukturisasi kehidupan bukanlah perkara yang sekejap mata bisa langsung diterapkan. Perkara adaptasi dan faktor-faktor lainnya harus menjadi pertimbangan yang sangat serius dalam membentuk suatu tatanan kehidupan atau di Indonesia disebut sebagai “New Normal”. Ya, kalimat new normal belakangan ini banyak diperbincangkan perihal tatanan hidup baru yang akan berlaku di masyarakat Indonesia karena saat ini pemerintah sedang merancang kebijakan tersebut yang kabarnya beberapa hari ke depan akan dilakukan uji coba di beberapa daerah. Kebijakan ini menuai pro dan kontra dari berbagai pihak. Ada yang beranggapan bahwa New Normal harus dilaksanakan karena perputaran ekonomi harus tetap berjalan dan di sisi lain bahwa New Normal belum tepat waktu dan sasaran karena grafik penularan virus masih belum terkendali dan masih banyak lagi tanggapan lainnya. Tentu saja dalam menentukan kebijakan restrukturisasi tatanan kehidupan bukanlah hal yang sepele karena hal ini menyangkut peradaban manusia.

Namun kita tidak akan membahas lebih jauh tentang hal itu. Pada kondisi saat ini, hal yang cukup mendukung kebijakan pemerintah untuk tetap #dirumahaja adalah dengan membangun paradigma-paradigma yang positif akibat pandemik ini. Menyebarkan propaganda dengan konten yang positif akan sangat membantu menghilangkan kejenuhan dan justru akan membuat kita makin optimis bahwa musibah ini bisa kita hadapi bersama-sama. Saya teringat dengan kegiatan yang dilakukan oleh beberapa teman-teman kampus beberapa hari yang lalu. Kegiatan kemanusiaan berupa pemberian sembako kepada teman-teman dari luar daerah yang masih bermukim di Makassar dan tidak bisa pulang kampung akibat terdampak Covid-19. Kegiatan ini merefleksikan diri kita untuk senantiasa melihat ke bawah sebagai analogi kesyukuran. Disaat kita menajalani aktifitas #dirumahaja bersama keluarga, justru banyak saudara-saudara kita yang menginginkan hal itu tetapi kondisi yang tidak mengizinkan. Tenaga medis sebagai garda terdepan saat ini turut merasakan hal yang sama. Profesi dan kemanusiaan adalah nomor satu bagi mereka. Hal ini yang kemudian mendasari banyaknya tim-tim relawan kemanusiaan yang turut andil dalam melawan pandemik ini. Berbagai macam lembaga dan komunitas melakukan penggalangan dana bagi korban yang tardampak. Dukungan dari berbagai pihak dan kalangan yang semakin membuat kita optimis bahwa kondisi ini akan cepat berlalu.

Bercermin atas hal demikian itu, kita kemudian senantiasa terpancing untuk melakukan hal-hal yang baik. Pandemik ini seolah-olah menjadi pemantik untuk memunculkan nilai-nilai kemanusiaan. Barangkali Tuhan menginginkan restrukturisasi tatanan kehidupan agar kita semakin mendekatkan diri kepada-Nya.
Oleh karena itu, kerja-kerja kolektif dengan semangat dan optimis menjadi senjata terkuat saat ini. Kita senantiasa berdoa kepada Sang Maha Pengatur Kehidupan agar kondisi ini akan cepat baik-baik saja.

Penulis : Rezki Ramadhan (Departemen Kaderisasi dan Advokasi)
Tanggal Publish : 16 Juni 2020

More info :
IG : amazonehmapnup
Line : @bus2778d
Website : www.hmapnup.org
Youtube : HMA-PNUP

Terlahir Untuk Satu



Hits: 57

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *